This document contains 43 facts in HTML Microdata format.

A generic web browser may not display them properly but the document can be saved on disk and used by some appropriate program or sent to a third party. Use "Save As" or "Send To" menu item of the browser; choose "HTML" file type, not "text file" or "web archive".

The rest of the document may look like garbage for humans or not displayed by the browser.

PrefixNamespace IRI
n8http://purl.org/dc/terms/
xsdhhttp://www.w3.org/2001/XMLSchema#
n9http://www.w3.org/ns/prov#
n4http://id.dbpedia.org/resource/Kategori:
n7http://xmlns.com/foaf/0.1/
n5http://www.w3.org/2000/01/rdf-schema#
n6http://id.wikipedia.org/wiki/
n10http://id.wikipedia.org/wiki/Tagab_Obang?oldid=
n3http://dbpedia.org/ontology/
n2http://id.dbpedia.org/resource/
rdfhttp://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#
Subject Item
n2:Perang_Banjar
n3:wikiPageWikiLink
n2:Tagab_Obang
Subject Item
n2:Tagab_Obang
n5:label
Tagab Obang
n5:comment
Tagab Obang adalah seorang tokoh pejuang perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Belanda dalam Perang Banjar di daerah Margasari Kalimantan Selatan. Pada saat itu sedang memuncaknya perlawanan rakyat Banjar. Seluruh wilayah Kesultanan Banjar bergolak melawan Belanda.
n8:subject
n4:Tokoh_Banjar n4:Perang_Banjar
n3:wikiPageID
537246
n3:wikiPageRevisionID
3521428
n3:wikiPageWikiLink
n4:Perang_Banjar n2:Pembunuh n4:Tokoh_Banjar n2:Pengumuman n2:Perang_Banjar n2:Kabupaten_Tapin n2:11_Juni n2:Gustave_Marie_Verspijck n2:Perlawanan n2:Kota_Banjarmasin n2:Kalimantan_Selatan n2:Gustave_Verspijck n2:Pejuang n2:Frederik_Nicolaas_Nieuwenhuijzen n2:Kiai n2:Orang_Eropa n2:Rakyat n2:1861 n2:16_Desember n2:Letnan n2:Sungai n2:1994 n2:14_Desember n2:Distrik_Margasari n2:1860 n2:Tokoh
n3:abstract
Tagab Obang adalah seorang tokoh pejuang perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Belanda dalam Perang Banjar di daerah Margasari Kalimantan Selatan. Pada saat itu sedang memuncaknya perlawanan rakyat Banjar. Seluruh wilayah Kesultanan Banjar bergolak melawan Belanda. Belanda kemudian mengeluarkan pengumuman penghapusan Kesultanan Banjar tertanggal 11 Juni 1860 yang ditanda tangani oleh Residen Surakarta Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen yang merangkap Komisaris Pemerintahan Belanda untuk Afdeling Selatan dan Timur Borneo. Sejak itu Belanda seolah-olah menyelesaikan persoalan dalam negerinya sendiri bukan berhadapan dengan suatu bangsa yang berperang mengembalikan kemerdekaan bangsanya. Sejak itu Belanda mulai mengatur aparat pemerintahannya di daerah-daerah Kesultanan Banjar. Daerah-daerah yang telah dikuasai Belanda ditetapkan Kepala-Kepala Distrik baru. Salah satu distrik yang baru dikuasai itu adalah di distrik Margasari. Kepala Distrik Margasari waktu itu ialah Kiai Jaya Di Pura. Kiai (wedana) ini banyak membantu perjuangan rakyat dengan cara membantu bahan makanan dan juga informasi tentang aktivitas serdadu Belanda. Akhirnya sikap Kiai Jaya Di Pura yang pro perjuangan rakyat ini diketahui Belanda sehingga dia diganti sebagai Kiai (wedana) dengan Kiai baru yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap Belanda. Pada tanggal 14 Desember 1861 dilakukan timbang terima jabatan Kiai Margasari dengan Kiai (wedana) baru Kiai Sri Kedaton. Pada tanggal 14 Desember 1861 Controleur Fuijck datang ke daerah Margasari dikawal 5 orang serdadu. Pada malam hari tanggal 16 Desember 1861, Controleur Fuijck dan pengawalnya dibunuh dan rumahnya dibakar. Mendengar berita yang menyedihkan ini Residen Gustave Marie Verspijck mengirim Letnan Croes dengan 20 orang serdadu ke daerah Margasari. Letnan Croes mengejar pembunuh dengan menggunakan 5 buah jukung (perahu) ke Sungai Jaya anak Sungai Negara. Mereka berangkat pukul 11.00 siang. Para pejuang dibawah pimpinan Tagab Obang sudah menunggu di sungai sempit itu. Letnan Croes disergap para pejuang dengan cara tiba-tiba dan terjadilah pergumulan di dalam perahu dan di sekitar sungai sempit itu. Tiga jam kemudian perahu itu kembali dengan membawa mayat Letnan Croes dan 14 orang serdadunya yang telah menjadi mayat, 8 orang diantaranya orang Eropa. Letnan Croes terkulai tangannya kena parang bungkul dan kemudian ditombak dengan serapang (trisula). Berita duka ini disampaikan kepada Residen Gustave Verspijck yang sedang bergembira karena kemenangannya menghancurkan perjuangan rakyat Banjar yang ketika itu berada di rumah Asisten Residen di Martapura. Residen Verspijck segera kembali ke Banjarmasin dan memerintahkan kapal perang Boni dan Celebes mengejar para pembunuh tersebut.
n9:wasDerivedFrom
n10:3521428
n7:isPrimaryTopicOf
n6:Tagab_Obang
Subject Item
n2:Sejarah_Kalimantan_Selatan
n3:wikiPageWikiLink
n2:Tagab_Obang
Subject Item
n2:Tagah_Obang
n3:wikiPageWikiLink
n2:Tagab_Obang
n3:wikiPageRedirects
n2:Tagab_Obang
Subject Item
n2:Tagab_obang
n3:wikiPageWikiLink
n2:Tagab_Obang
n3:wikiPageRedirects
n2:Tagab_Obang
Subject Item
n2:Daftar_tokoh_Banjar
n3:wikiPageWikiLink
n2:Tagab_Obang
Subject Item
n6:Tagab_Obang
n7:primaryTopic
n2:Tagab_Obang