This document contains 42 facts in HTML Microdata format.

A generic web browser may not display them properly but the document can be saved on disk and used by some appropriate program or sent to a third party. Use "Save As" or "Send To" menu item of the browser; choose "HTML" file type, not "text file" or "web archive".

The rest of the document may look like garbage for humans or not displayed by the browser.

PrefixNamespace IRI
n7http://purl.org/dc/terms/
xsdhhttp://www.w3.org/2001/XMLSchema#
n9http://www.w3.org/ns/prov#
n10http://id.wikipedia.org/wiki/Efek_Matius?oldid=
n8http://id.dbpedia.org/resource/Kategori:
n6http://www.w3.org/2000/01/rdf-schema#
n3http://xmlns.com/foaf/0.1/
n2http://id.wikipedia.org/wiki/
n12http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/e/eb/Bible-open.jpg/200px-Bible-open.
n11http://id.dbpedia.org/resource/Berkas:Bible-open.
n14http://id.dbpedia.org/resource/Universitas_California,
n5http://dbpedia.org/ontology/
n4http://id.dbpedia.org/resource/
n13http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/e/eb/Bible-open.
rdfhttp://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#
Subject Item
n4:Efek_Matius
n6:label
Efek Matius
n6:comment
Efek Matius atau keunggulan kumulatif adalah sebuah fenomena sosial dimana yang kaya menjadi semakin kaya sedangkan yang miskin menjadi semakin miskin. Istilah "efek matius" pertama kali diperkenalkan oleh ahli sosiologi Robert Merton pada 1968. Ia mengambil nama efek Matius dari sebuah ayat di Injil Matius yang berbunyi: “ Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. ” .
n7:subject
n8:Injil_Matius n8:Sosiologi
n5:wikiPageID
754866
n5:wikiPageRevisionID
6717821
n5:wikiPageWikiLink
n4:Penulis n4:Universitas_Columbia n4:Outliers n4:Biologi n8:Injil_Matius n4:IQ n4:Doktor n4:Fisika n11:jpg n4:Sosial n4:Nobel n4:Montana n4:Fenomena n4:Manhattan n4:Robert_Oppenheimer n4:Malcolm_Gladwell n4:The_Black_Swan n8:Sosiologi n4:Universitas_Harvard n4:Universitas_Chicago n4:Universitas_Princeton n14:_Berkeley n4:Nassim_Nicholas_Taleb n4:1968 n4:Atom n4:Sosiologi n4:Robert_Merton n4:Institut_Teknologi_California
n3:depiction
n13:jpg
n5:thumbnail
n12:jpg
n5:abstract
Efek Matius atau keunggulan kumulatif adalah sebuah fenomena sosial dimana yang kaya menjadi semakin kaya sedangkan yang miskin menjadi semakin miskin. Istilah "efek matius" pertama kali diperkenalkan oleh ahli sosiologi Robert Merton pada 1968. Ia mengambil nama efek Matius dari sebuah ayat di Injil Matius yang berbunyi: “ Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. ” . Merton dalam tulisannya "Efek Matius dalam Sains" mengemukakan bagaimana ilmuwan yang sudah terkenal mendapatkan penghargaan lebih ketika mereka bekerjasama dengan ilmuwan lainnya yang tidak begitu terkenal. Ia juga menceritakan mengenai suatu riset yang mengungkapkan bahwa 69 persen dari penerima penghargaan Nobel berasal dari enam universitas ternama yang hanya menghasilkan sebesar 22 persen dari total doktor di bidang biologi dan fisika. Nassim Nicholas Taleb dalam bukunya, "Angsa Hitam" mengilustrasikan efek matius dengan penulis makalah akademis. Diandaikan penulis tersebut mengutip 50 orang yang pernah meneliti subjek yang sama dan ke-50 orang tersebut memiliki kualitas yang sama. Kemudian penulis lainnya mengutip tiga di antara 50 orang tersebut secara acak. Lalu penulis ketiga yang membaca makalah penulis kedua memilih tiga pengarang tersebut untuk dikutip. Hasilnya, ketiga pengarang itu menjadi lebih terkenal karena nama mereka menjadi terkait lebih erat dengan subjek yang digarap. Pada kenyataannya, ketiga pengarang tersebut tidak lebih baik dari 47 orang lainnya hanya saja mereka lebih beruntung. Mereka dipilih bukan karena ketrampilan yang menonjol melainkan karena mereka telah muncul dalam daftar pustaka lebih dulu. Malcolm Gladwell melalui bukunya "Outliers" mengisahkan tentang Robert Oppenheimer, penemu bom atom, dan membandingkannya dengan Christopher Langan, yang memiliki IQ 195. Oppenheimer mendapat perhatian karena keadaannya yang mendukung; ia besar di daerah elit di Manhattan, anak seorang pebisnis sukses dan masuk ke sekolah unggulan. Hal-hal tersebut membuat Oppenheimer berhasil mendapatkan banyak pekerjaan yang sebenarnya ia tidak kuasai. Sementara itu, Langan yang adalah juga seorang jenius bernasib lebih buruk. Ia besar di kota kecil Montana, miskin dan memiliki ayah tiri yang kasar. Meskipun memiliki IQ yang tinggi, ia gagal menyelesaikan studinya di universitas karena kemampuan sosialnya yang rendah. Kemampuan sosial yang rendah ini menurut Gladwell merupakan hasil dari hidupnya yang bergelut dengan kemiskinan.
n9:wasDerivedFrom
n10:6717821
n3:isPrimaryTopicOf
n2:Efek_Matius
Subject Item
n4:Efek_matius
n5:wikiPageWikiLink
n4:Efek_Matius
n5:wikiPageRedirects
n4:Efek_Matius
Subject Item
n2:Efek_Matius
n3:primaryTopic
n4:Efek_Matius