Content-Length: 27364 About: Tiga Corak Umum

Tiga Corak Umum yang sering digunakan oleh mazhab Theravada, dikenal dengan sebutan Tiga Kesunyataan Mulia oleh mazhab Mahayana merupakan konsep Agama Buddha mengenai ciri umum kenyataan eksistensi seperti yang diserap oleh persepsi. Menurut tradisi Agama Buddha semua hal-ihwal atau fenomena yang hadir dalam keberadaan selain dari Nirwana dikusasai oleh tiga ciri umum, yaitu: ketidakkekalan, penderitaan, dan ke-tiada-akuan (atau tanpa inti).

PropertyValue
dbpedia-owl:abstract
  • Tiga Corak Umum yang sering digunakan oleh mazhab Theravada, dikenal dengan sebutan Tiga Kesunyataan Mulia oleh mazhab Mahayana merupakan konsep Agama Buddha mengenai ciri umum kenyataan eksistensi seperti yang diserap oleh persepsi. Menurut tradisi Agama Buddha semua hal-ihwal atau fenomena yang hadir dalam keberadaan selain dari Nirwana dikusasai oleh tiga ciri umum, yaitu: ketidakkekalan, penderitaan, dan ke-tiada-akuan (atau tanpa inti). Karena itu pendambaan atau kemelekatan pada suatu hal-ihwal -baik lahiriah maupun kejiwaan (atau ideologis) - pada akhirnya akan menampakan dan membawa kesengsaraan. Dalam aliran Mahayana ciri tersebut sering kali disebut Segel Dharma (Dharma Seals) sedang dalam tradisi Theravada disebut Tilakkhana atau Tiga Corak Umum (atau Tiga Kesunyataan Mulia; atau seringkali dikenal pula dengan sebut Tiga Corak Kehidupan). Dalam falsafah Buddhis, Sang Buddha menyimpulkan bahwa semua yang ada di dunia fisik (Pali: Rupa] dan ditambah semua fenomena dari kejiwaan ditandai oleh 3 ciri umum ini. Segenap bentuk dan pandangan yang tampak dan tidak tampak merupakan perakitan dari "Nama-Rupa" . Keberadaan alam "Nama-Rupa" ini adalah akibat kemampuan serap persepsi yang pada gilirannya diakibatkan oleh pengkondisian . Pengkondisian pada gilirannya adalah kebutuhan untuk membuat kejelasan dalam kejahilan, sedang kejahilan itu sendiri diakibatkan oleh kelahiran atau keberadaan kembali. Karena segenap hal-ihwal pada instansi terakhir bertumpu pada persepsi maka segenap hal-ihwal mengandung Tiga Corak Umum ini karena dasarnya adalah pengkondisian yang bermula pada kejahilan. Ketidak-kekalan; ini menunjukkan bahwa semua kondisi akan hilang atau tidak kekal, tetapi juga menunjukkan semua kondisi pada situasi yang terus berputar Penderitaan; sering pula diterjemahkan sebagai "ketidak-puasan". arti filosofisnya lebih menyerupai "kegelisahan", selayaknya berada dalam keadaan terganggu. Dengan demikian, "penderitaan" merupakan artian yang terlalu sempit untuk "konotasi emosional yang negatif", Tanpa Inti; atau ke Tidak-akuan, impersonal, atau Tanpa-Ego, adalah antipola dari konsep "Diri" atau Ego. Dalam tradisi Hindu ada kebenaran yang mengikat segala fenomena atau zat pengikat segala hal ihwal . Anatta merupakan suatu ciri umum yang dimiliki oleh segenap perakitan fisik dan komponen psikologis. Karena semua perakitan ini secara tersendiri tunduk kepada perubahan terus menerus dan tetap, tanpa ada kontrol dari diri pengamat. Pengenalan anatta adalah apabila pengamat dapat melihat bahwa sesungguhnya segala hal-ihwal tidak memiliki inti pusat . Karena kekosongan makna ini maka sikap yang manusia yang logis adalah tidak berpamrih. Seringkali disebutkan Segel Dharma yang keempat: Nirwana adalah damai. Nirwana adalah 'pantai lain' dari Samsara Dengan membawa ketiga segel pada pengalaman dari waktu ke waktu melalui kewaspadaan konsenterasi, kita akan dikatakan memperoleh kebijaksanaan – langkah ketiga dari tiga latihan yang lebih tinggi - cara keluar dari samsara. Jadi kita bisa mengidentifikasikan bahwa, menurut sutra, resep atau formula untuk meninggalkan samsara diperoleh dengan menganti sudut pandangan dalam melihat dunia.
dbpedia-owl:wikiPageID
  • 202375 (xsd:integer)
dbpedia-owl:wikiPageRevisionID
  • 6600547 (xsd:integer)
dbpedia-owl:wikiPageWikiLink
dcterms:subject
rdfs:comment
  • Tiga Corak Umum yang sering digunakan oleh mazhab Theravada, dikenal dengan sebutan Tiga Kesunyataan Mulia oleh mazhab Mahayana merupakan konsep Agama Buddha mengenai ciri umum kenyataan eksistensi seperti yang diserap oleh persepsi. Menurut tradisi Agama Buddha semua hal-ihwal atau fenomena yang hadir dalam keberadaan selain dari Nirwana dikusasai oleh tiga ciri umum, yaitu: ketidakkekalan, penderitaan, dan ke-tiada-akuan (atau tanpa inti).
rdfs:label
  • Tiga Corak Umum
http://www.w3.org/ns/prov#wasDerivedFrom
foaf:isPrimaryTopicOf
is dbpedia-owl:wikiPageRedirects of
is dbpedia-owl:wikiPageWikiLink of
is foaf:primaryTopic of